Mengapa harus takut menjadi tua

Bumi yang kita tempati saat ini sesungguhnya telah silih berganti ditempati oleh berbagai mahluk hidup. Sejarah telah mencatat bahwa bumi pernah ditempati oleh dinosaurus selama 65 juta tahun dan oleh ichtyosaurus (ikan purba) selama 150 juta tahun. Disamping secara populasi kedua mahluk tersebut mampu hidup dalam waktu yang panjang, ternyata secara individu pun kedua jenis mahluk tersebut mempunyai usia yang mencapai ribuan tahun. Suatu usia yang secara individu tidak akan pernah dicapai oleh umat manusia.

Berbeda dengan dinosaurus maupun ichtiosaurus, kehidupan umat manusia di bumi sesungguhnya baru dimulai 100.000 tahun lalu. Dalam kurun waktu tersebut, telah hidup manusia dari berbagai generasi dan bangsa. Yang sangat menarik adalah kualitas hidup umat manusia terus mengalami penurunan seiring peningkatan usianya dari waktu ke waktu. Sebagai contoh Nabi Nuh mampu terus bekerja dan berkarya sampai usia beliau mencapai 1000 tahun. Hal yang sama dapat juga kita amati bahwa banyak orang tua yang hidup sebelum kita mampu bekerja sampai usianya mencapai 100 tahun. Padahal umat manusia saat ini banyak yang telah menjadi tua, atau tidak dapat berkarya lagi pada usia sekitar 70 tahun.

Proses menjadi tua merupakan keadaan yang harus dilalui oleh semua mahluk hidup, apabila memiliki usia yang panjang. Proses ini kadang-kadang merupakan momok yang paling ditakuti oleh yang mengalaminya sehingga berbagai upaya dilakukan untuk menghambat atau bahkan kalau bisa menghindari proses ini. Permasalahannya kini, apa yang sebenarnya terjadi sehingga apabila berumur panjang kita menjadi tua dan benarkah penuaan ini merupakan proses yang menakutkan karena kulit semakin mengeriput dan berbagai fungsi yang ada di dalam tubuh semakin menurun.

II. DASAR PEMIKIRAN

Penuaan sesungguhnya merupakan proses dediffensiasi (de-growth) dari sel, yaitu proses terjadinya perubahan anatomi maupun penurunan fungsi dari sel. Ada banyak teori yang menjelaskan masalah penuaan. Dalam makalah ini akan disampaikan tiga buah teori.

a. Teori Pertama

Teori pertama menyatakan bahwa semakin cepat suatu organisme hidup maka semakin cepat pula mereka menua. Hal ini terjadi karena kehidupan cepat didefinisikan sebagai proses differensiasi dari pertumbuhan yang cepat serta metabolisme yang tinggi (Kimbal, 1983) sehingga sel-sel lebih cepat mengalami penuaan. Apabila disandarkan pada teori ini maka pertumbuhan seorang manusia yang terlalu cepat, tidak baik bagi manusia tersebut karena dia akan cepat mengalami penuaan. Namun demikian teori ini tidak menjelaskan bagaimana proses tersebut dapat terjadi pada tingkat seluler sehingga pengambilan kesimpulan yang hanya didasarkan pada teori ini banyak memiliki kekurangan.

b. Teori Kedua

Teori kedua menyatakan bahwa setiap sel tidak dapat mengelak dari penumpukan sisa metabolit yang bersifat racun. Penumpukan tersebut secara berangsur-angsur mengurangi kemampuan sel untuk berfungsi sehingga akhirnya menjadi tua. Sel tidak dapat mengelak dari penumpukan ini karena kolagen sebagai protein struktural yang merupakan selubung ekstraseluler sebagian besar sel tubuh menjadi tidak lentur dan tidak mudah larut. Seperti diketahui, ketika kolagen pertama kali dibentuk, zat ini bersifat lentur dan mudah larut dan hal ini menunjukkan bahwa sel belum menua. Namun demikian lama-kelamaan rantai polipeptida yang terbuat dari kolagen terikat terus bersama sehingga kelarutan dan kelenturan (permeabilitas) dari bahan tersebut berkurang. Akibat pengurangan permeabilitas ini maka lalu lintas bahan antar-sel mengalami banyak hambatan. Kemungkinan ini pula yang dijadikan dasar dalam pemunculan hipotesis bahwa penuaan mengakibatkan terjadinya perubahan hormon (Hermann dan Berger, 1999) walaupun tidak ada hubungan antara penuaan tersebut dengan perubahan komposisi asam lemak sel (Stulnig et al., 1996).

c. Teori Ketiga

Teori ketiga menyatakan bahwa penuaan terjadi sebagai akibat kondisi lingkungan yang merugikan gen-gen yang berhubungan dengan sel badan atau sel-sel somatik (Kanungo, 1994). Menurut Burnet dalam Kimbal (1983) mutasi gen somatik yang tidak dengan cepat diperbaiki oleh enzim DNA polimerase akan menumpuk pada sel sehingga gen-gen tersebut mulai menghasilkan protein yang tidak sempurna yang mengakibatkan efisiensi sel berkurang. Apabila protein yang tidak sempurna ini menjadi enzim maka proses mutasi somatik akan terjadi secara lebih cepat. Akibatnya, sel akan mati (merupakan proses penuaan) atau bahkan mengalami kanker. Akibat lain penuaan adalah merangsang mutasi DNA mitokondria (Fukagawa et al., 1999).

III. DAMPAK MENJADI TUA

Ketiga teori di atas merupakan teori biologi yang dianggap mampu menjelaskan berbagai penurunan kondisi baik penurunan bentuk anatomis maupun secara fisiologis (fungsi tubuh) apabila seorang manusia mengalami penuaan.

a. Dampak Secara Anatomis

Penuaan akan mengakibatkan penurunan kondisi anatomis dari sel akibat terjadinya penumpukan metabolit yang terjadi di dalam sel (Teori II). Metabolit yang menumpuk tersebut tentunya bersifat racun terhadap sel sehingga bentuk dan komposisi pembangun sel sendiri akan mengalami perubahan. Disamping itu karena permeabilitas kolagen yang ada di dalam sel telah sangat jauh berkurang, maka kekenyalan dan kekencangan dari otot, terutama pada bagian integumen akan sangat jauh menurun. Hal inilah yang secara kasat mata dapat dilihat berupa kulit keriput pada manusia yang mengalami proses penuaan. Sesungguhnya proses perubahan di atas hampir terjadi di setiap sel, hanya saja karena sel kulit (sistem integumen) merupakan lapisan luar tubuh yang berhubungan dengan dunia luar, maka sel inilah yang jelas dapat langsung dilihat.

b. Dampak Secara Fisiologis

Perubahan anatomis yang terjadi dalam suatu sel baik secara bentuk maupun komposisi zat pembangunnya dipastikan akan mempengaruhi fungsi dari sel maupun organisme tersebut secara keseluruhan. Ada berbagai macam fungsi dipengaruhi oleh tubuh yang mengalami penuaan ini, antara lain :

1) Fungsi Seksualitas

Fungsi seksualitas sangat terkait dengan hormon seks yang ada di dalam tubuh. Keberadaan dan perubahan hormon berhubungan erat dengan usia (Vermuelen, 1998). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pria, peningkatan usia tidak selalu diiringi dengan penurunan hormon. Sebaliknya, wanita yang mengalami masa tua akan mengalami menopause; hal ini ditandai dengan berhentinya menstruasi yang menunjukkan telah berhentinya kemampuan reproduksi dari wanita tersebut. Kejadian seperti menopause ini sesungguhnya tidak pernah terjadi pada pria. Madersbacher et al., (1993) telah mengadakan penelitian tentang perubahan hormon yang dialami pria mulai usia 30 tahun sampai 80 tahun. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa seiring perubahan usia, hanya hormon testoteron yang mengalami penurunan, sedangkan luteinizing hormone (LH) dan follicle stimulating hormon (FSH) tetap mengalami peningkatan. Dari fenomena ini (biasa disebut cross of andropause) beberapa ahli menyatakan bahwa tidak ada andropause yang sesungguhnya (Herman and Berger, 1999), atau dengan kata lain kemampuan reproduksi pria tidak pernah berhenti sama sekali.

Walaupun kemampuan reproduksinya tidak sama sekali terhenti, aktivitas seksual pada pria akan mengalami penurunan. Hal ini terkait erat dengan ketersediaan hormon androgen yang terdapat di dalam tubuh.

2) Fungsi Indera

Seperti juga fungsi seksual fungsi indera akan menurun setelah manusia mengalami penuaan. Indera pada hakekatnya merupakan suatu organ yang tersusun dari jaringan, sedangkan jaringan sendiri merupakan kumpulan sel yang mempunyai fungsi yang sama. Karena sel telah mengalami perubahan bentuk maupun komposisi zat pembangun (sel tidak normal) ketika mengalami proses penuaan, maka secara secara otomatis fungsi indera pun akan mengalami penurunan. Hal ini dapat dilihat pada orang tua yang secara berangsur-angsur mengalami penurunan kemampuan pendengaran dan penglihatan serta kemampuan inderawi lainnya.

3) Fungsi Rasio dan Naluri

Fungsi rasio maupun naluri sangat terkait dengan sistem syaraf dan otak.

4) Fungsi Nurani dan Intuisi.

Kecuali setelah mengalami pikun, tidak diperoleh data yang valid yang dapat menunjukkan adanya penurunan fungsi nurani maupun instuisi akibat adanya proses penuaan.

Fungsi rasio, naluri dan indera sangat terkait dengan pengembangan ilmu-ilmu fisik material. Karena telah terjadi penurunan fungsi akibat penuaan, maka dipastikan kemampuan seseorang dalam pengembangan ilmu-ilmu fisik material akan sangat jauh menurun atau bahkan terhenti sama sekali. Bila ditinjau dari fungsi nurani, ada kecendrungan bahwa manusia memahami siapa dirinya dan mau kemana dia pada akhirnya, Hal ini muncul karena selama proses kehidupan, proses pembelajaran dan pengalaman terjadi. Proses ini mendidik rasionya untuk selalu bekerja dan berfikir.

IV. UPAYA MENGHAMBAT PENUAAN

Walaupun bukan sesuatu yang ditakuti semua orang, namun apabila semua manusia berkata jujur, penuaan adalah kondisi yang pasti tidak disukai. Buktinya, banyak upaya yang dilakukan manusia untuk menghambat proses penuaan tersebut. Dengan didasarkan pada teori proses penuaan ada, maka upaya menghambat penuaan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

a. Hidup dalam lingkungan tidak tercemar

Kondisi lingkungan yang tercemar merupakan kondisi lingkungan yang merugikan gen-gen yang berada dalam sel. Apabila sel tersebut terpapar lama pada lingkungan tercemar maka sel akan cepat mengalami penuaan. Salah satu contoh adalah proses terjadinya penurunan pendengaran (penulian) pada telinga. Pemaparan suara bising yang terlalu lama dan berintensitas tinggi akan menjadikan seseorang berangsur-angsur menjadi tuli. Ketulian ini dipicu oleh penebalan sel-sel pada dinding alat pendengaran. Contoh lain adalah pengakumulasian antibiotik yang menjadikan seseoran resisten terhadap antibiotik. Dengan demikian tidaklah mengherankan apabila kondisi lingkungan pada jaman dulu yang tidak tercemar diduga menjadi penyebab bahwa umur manusia jaman dulu lebih lama daripada umur manusia masa kini dan kualitas hidupnya pun lebih baik daripada kualitas hidup manusia masa kini (catatan: pengertian kualitas hidup disini lebih dititikberatkan pada kesehatan).

b. Mengkonsumsi makanan yang bergizi

Makanan yang masuk ke dalam tubuh merupakan penentu utama tingkat pertumbuhan maupun kualitas matriks sel. Karena sel menuntut asupan matriks yang sesuai dengan kebutuhannya, konsekuensinya adalah bahwa makanan harus mempunyai kualitas yang sesuai dengan kebutuhan sel tersebut. Secara umum, kualitas makanan yang sesuai adalah makanan yang seimbang secara gizi, baik jumlah karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineralnya.

c. Mencegah kegemukan atau kekurusan

Kegemukan atau kekurusan merupakan kondisi yang tidak ideal bagi tubuh. Kegemukan akan mengakibatkan penumpukan metabolit pada sel, sedangkan kekurusan akan mengakibatkan tidak terpenuhinya matriks sel yang diperlukan sel untuk berada pada kondisi normal. Secara keseluruhan, apabila kedua kondisi tidak ideal ini terjadi, sel akan cepat mengalami penuaan dan manusianya pun akan cepat tua.

d. Melaksanakan olah raga secara teratur

Terdapat dua keuntungan yang diperoleh apabila seseorang melakukan olah raga secara teratur. Pertama, metabolit dapat dikeluarkan lebih cepat sehingga tidak menumpuk pada sel. Kedua, sel menjadi terlatih sehingga keluar masuknya bahan antar sel atau permeabilitas kolagen akan lebih terjaga. Kedua hal inilah yang dipastikan akan menghambat penuaan sel. Dalam ilmu fisiologi fenomena ini dibahas dalam fisiologi latihan (Exercise Physiology).

e. Terus menggunakan otak untuk berfikir

Seperti juga adanya proses latihan pada sel, kemampuan berfikir pun harus terus dilatih. Sesungguhnya proses berfikir adalah proses latihan (olah raga) pada sel otak sehingga membuat kondisi sel-sel otak lebih terjaga sehingga proses penuaan atau pikun akan dapat dihambat.

f. Menghindari stress

Secara fisiologis, stress akan mengakibatkan proses metabolisme berjalan secara tidak normal. Metabolisme yang tidak normal akan mempercepat penumpukan metabolit, atau terbentuknya protein yang tidak sempurna sehingga efisiensi sel berkurang. Karena umumnya manusia yang mengalami stress malas untuk ber-olah raga, metabolitnya menumpuk relatif cepat dalam sel dan memperbesar peluang protein yang tidak sempurna untuk menjadi enzim. Pada gilirannya, proses penuaan pun biasanya berlangsung secara cepat.

V. FALSIFIKASI POPPER DALAM TEORI PENUAAN

Kaum falsifikasionis memandang ilmu sebagai suatu perangkat hipotesa yang dikemukakan secara tiba-tiba dengan tujuan melukiskan secara akurat perilaku dunia atau alam semesta. Untuk menjadi suatu teori ilmiah, maka hipotesa harus falsifiabel (dapat dinyatakan sebagai tidak benar atau salah). Suatu hipotesa falsifiabel apabila terdapat suatu keterangan observasi atau suatu perangkat keterangan observasi yang tidak konsisiten dengannya, yakni apabila ia dinyatakan sebagai benar maka ia akan memfalsifikasi hipotesa itu.

Contoh : 1. Tidak pernah hujan pada hari minggu — falsifiabel

2. Di Bogor sedang hujan ataupun sedang tidak hujan — tidak falsifiabel karena tidak ada keterangan observasi logis yang dapat menyalahkannya.

Jadi kalau dalam hal penuaan kita temukan pernyataan : Penuaan akan mengakibatkan penurunan kondisi anatomis dari sel, ini berarti falsifiabel, artinya ia dapat difalsifikasi bila ditemukan bahwa penuaan tidak mengakibatkan penurunan kondisi anatomis sel, sungguhpun hanya satu kasus. Begitupun tentu dampak penuaan secara fisiologis yang disajikan pada tulisan ini semuanya bersifat falsifiabel.

Selanjutnya seluruh upaya menghambat penuaan yang telah banyak diakui bahkan diyakini banyak orang, juga masih memiliki sifat falsifiabel. Karena dalam falsifikasi pada intinya mempersoalkan sesuatu untuk mendapatkan kebenaran , maka dalam konteks tulisan ini kita dapat memulainya dengan pertanyaan seperti : benarkah hidup dalam lingkungan tidak tercemar dapat menghambat penuaan ?; benarkah terus menggunakan otak untuk berpikir, atau menghindari stress dapat menghambat penuaan ? Apabila ditemukan suatu fakta yang tidak sesuai dengan kebenaran yang telah diakui/diyakini tersebut maka artinya kebenaran tersebut menjadi tidak benar. Di lain pihak , falsifikasionis justru mensyaratkan bahwa suatu hipotesa ilmiah harus falsiafiabel. Hal ini berarti bahwa seluruh teori tentang penuaan tersebut adalah benar, namun tetap terus terbuka untuk ditemukan kebenaran baru terhadap teori-teori tersebut. Teori-teori baru tersebut baik berupa “koreksi” terhadap teori terdahulu maupun sesuatu yang benar-benar baru.

VI. INDUKSI DAN DEDUKSI DALAM FENOMENA PENUAAN

Penuaan masih bersifat fenomenal setidaknya dalam arti bahwa belum cukup kepastian untuk menyatakan proses penuaan secara universal. Walaupun dilain pihak bukti-bukti kebenaran telah dapat diungkapkan para ilmuwan dibidangnya, namun masih terus bersifat falsifiabel. Pendekatan induktif dan deduktif masih terbuka untuk mengungkap proses, dampak maupun upaya pencegahan penuaan. Dengan demikian masih sangat luas obyek-obyek yang dapat dilakukan oleh para peneliti biologi. Dalam hal ini yang penting diperhatikan bagi para penelitinya adalah agar disiplin dalam menggunakan setiap pendekatan yang dipilih.

Bagi peneliti dengan pendekatan induktif, mereka berupaya menemukan kebenaran bukan bersandar dari logika , tetapi dari pengalaman. Namun demikian untuk membuat generalisasi tidaklah mudah. Mereka harus memenuhi :

a. Jumlah observasi yang membentuk dasar untuk generalisasi harus besar.

b. Observasi harus diulang-ulang pada variasi kondisi yang luas

c. Keterangan observasi yang sudah dapat diterima tidak boleh bertentangan dengan hukum universal yang menjadi kesimpulannya.

Jadi dalam konteks penuaan ini kita dapat membuat sejumlah besar upaya membangun ilmu baru melalui pendekatan induktif. Perlu diingat bahwa pendekatan induktif ini memerlukan sumberdaya yang tidak kecil serta waktu yang

lama untuk mencapai suatu kesimpulan yang bersifat universal, karena pendekatan induktif bertumpu pada pengalaman.

Bagi peneliti dengan pendekatan deduktif, sekali seorang ilmuwan memiliki hukum-hukum dan teori-teori universal, maka baginya dapat menarik konsekuensi-konsekuensi yang bisa digunakan untuk memberikan penjelasan-penjelasan dan ramalan-ramalan. Misalnya pada teori penuaan kedua yang menyatakan bahwa setiap sel tidak dapat mengelak dari penumpukkan sisa metabolit yang bersifat racun yang berangsur-angsur mengurangi kemampuan sel, sehingga menjadi tua. Maka ramalan logis yang dapat dijelaskan adalah semakin banyak dan cepat terjadinya penumpukan sisa metabolit bersifat racun, orang menjadi cepat tua. Dari sinilah akhirnya memicu perkembangan ilmu-ilmu yang harus dilakukan baik untuk melengkapi teori penuaan yang sudah maupun yang akhirnya membantah ilmu penuaan yang sudah ada sekalipun.

Jika dicermati lebih lanjut, kedua pendekatan tersebut pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tetapi dapat dipastikan pula bahwa peranan keduanya adalah sama pentingnya, walaupun selalu saja terjadi perdebatan diantara para pengikutnya.

VII. PENUTUP

Penurunan fungsi maupun anatomis tubuh dari kondisi sebelumnya merupakan bentuk dari proses penuaan. Penuaan adalah konsekuensi yang harus ditanggung apabila kita berumur panjang. Ketakutan menghadapi proses ini merupakan hal yang wajar. sehingga apabila kita takut menghadapi penuaan, berdoalah kepada Tuhan agar diberi umur yang pendek saja.