Wawancara kerja, siapa bilang susah ?

Wawancara kerja saat ini merupakan salah satu cara yang sangat populer sebagai salah satu metode untuk menyeleksi karyawan. Bagi perusahaan-perusahaan kecil dan menengah wawancara kerja seringkali merupakan metode yang paling diandalkan, mengingat biaya yang dikeluarkan relatif murah dan “user” (baca: atasan) dapat langsung bertatap muka dengan si pelamar.

Bahkan pada jabatan tertentu wawancara kerja bisa dilakukan berkali-kali, sebelum calon karyawan diputuskan untuk diterima bekerja. Sementara bagi parapencari kerja, wawancara kerja mungkin sudah dianggap
sebagai “menu sehari-hari” yang harus dilalui sebelum resmi diterima bekerja. Anehnya, meskipun sudah memahami betul bahwa wawancara merupakan suatu hal yang biasa dilalui dalam melamar pekerjaan, banyak
sekali para pelamar yang tidak siap untuk menghadapi
wawancara kerja.

Tidak jarang mereka merasa langsung gugup bahkan patah semangat ketika dipanggil untuk wawancara, karena sudah seringkali gagal. Forum konseling dalam website ini banyak dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut bagaimana cara menghadapi wawancara kerja.

Para penanya tersebut banyak yang menceritakan bahwa mereka telah berkali-kali gagal “melewati” wawancara kerja meskipun diakui bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh “recruiter” (petugas rekrutmen & seleksi) relatif sama antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain tempat mereka melamar pekerjaan.

Ada juga penanya yang mengatakan bahwa ia berkali-kali selalu lolos dari semua metode seleksi yang lain (test tertulis,psiko test, dan test ketrampilan) tetapi tetap gagal ketika wawancara.

Permasalahan diatas menggelitik saya untuk mencari tahu lebih jauh
apa sebenarnya wawancara kerja. Mengapa wawancara kerja ini penting dilakukan dan mengapa banyak pelamar yang gagal dalam menjalani
wawancara kerja tersebut. Lalu kemudian apa saja yang
harus dilakukan oleh para pelamar untuk menyiasati wawancara kerja supaya berhasil.
Tujuan Wawancara Kerja

Wawancara kerja (job interview) saat inimerupakan salah satu aspek penting dalam proses rekrutmen dan seleksi karyawan. Meskipun validitas
wawancara dianggap lebih rendah jika dibandingkan dengan metode seleksi yang lain seperti psiko test, namun wawancara memiliki berbagai kelebihan yang memudahkan petugas seleksi dalam menggunakannya.

Apapun penilaian pelamar (calon karyawan), wawancara kerja sebenarnya memberikan suatu kesempatan atau peluang bagi pelamar untuk mengubah lowongan kerja menjadi penawaran kerja. Mengingat bahwa wawancara kerja tersebut merupakan suatu proses pencarian pekerjaan yang memungkinkan pelamar untuk memperoleh akses langsung ke perusahaan (pemberi kerja), maka “performance” (baca: proses & hasil) wawancara kerja merupakan suatu hal yang sangat krusial dalam menentukan apakah pelamar akan diterima atau ditolak.

Bagi si pelamar, wawancara kerja memberikan kesempatan kepadanya untuk menjelaskan secara langsung pengalaman, pengetahuan, ketrampilan,
dan berbagai faktor lainnya yang berguna untuk meyakinkan perusahaan bahwa dia layak (qualified) untuk melakukan pekerjaan (memegang jabatan) yang ditawarkan. Selain itu wawancara kerja juga memungkinkan pelamar untuk menunjukkan kemampuan interpersonal, professional, dan

gaya hidup atau kepribadian pelamar. Jika di
dalam CV (Curriculum Vitae) pelamar hanya bisa
mengklaim bahwa dirinya memiliki kemampuan komunikasi
dan interpersonal yang baik, maka dalam wawancara dia
diberi kesempatan untuk membuktikannya.

Bagi perusahaan, wawancara kerja merupakan salah
satu cara untuk menemukan kecocokan antara
karakteristik pelamar dengan
dengan persyaratan jabatan yang harus dimiliki
pelamar tersebut untuk memegang jabatan / pekerjaan
yang ditawarkan. Secara umum tujuan dari wawancara
kerja adalah:

  • Untuk
    mengetahui kepribadian pelamar

  • Mencari
    informasi relevan yang dituntut dalam persyaratan
    jabatan

  • Mendapatkan
    informasi tambahan yang diperlukan bagi jabatan
    dan perusahaan

  • Membantu
    perusahaan untuk mengidentifikasi pelamar-pelamar
    yang layak untuk diberikan penawaran kerja.

Teknik
Wawancara Kerja

Dua
teknik wawancara yang biasa dipergunakan perusahaan
dalam melakukan wawancara kerja adalah wawancara kerja
tradisional dan wawancara kerja behavioral. Dalam
prakteknya perusahaan seringkali mengkombinasikan
kedua teknik ini untuk memperoleh data yang lebih
akurat.

  • Wawancara kerja tradisional menggunakan
    pertanyaan-pertanyaan terbuka seperti “mengapa
    anda ingin bekerja di perusahaan ini”, dan
    “apa kelebihan dan kekurangan anda”.
    Kesuksesan atau kegagalan dalam wawancara
    tradisional akan sangat tergantung pada kemampuan
    si pelamar dalam berkomunikasi menjawab
    pertanyaan-pertanyaan, daripada kebenaran atau isi
    dari jawaban yang diberikan. Selain itu
    pertanyaan-pertanyaan yang diajukan lebih banyak
    bersifat mengklarifikasikan apa yang ditulis dalam
    surat lamaran dan CV pelamar. Dalam wawancara
    kerja tradisional, recruiter biasanya ingin
    menemukan jawaban atas 3 (tiga) pertanyaan: apakah
    si pelamar memiliki pengetahuan, ketrampilan dan
    kemampuan untuk melakukan pekerjaan, apakah si
    pelamar memiliki antusias dan etika kerja yang
    sesuai dengan harapan recruiter, dan apakah
    si pelamar akan bisa bekerja dalam team dan
    memiliki kepribadian yang sesuai dengan budaya
    perusahaan.

  • Wawancara kerja behavioral didasarkan pada
    teori bahwa “performance” (kinerja) di
    masa lalu merupakan indikator terbaik untuk
    meramalkan perilaku pelamar di masa mendatang (baca:
    ketika bekerja). Wawancara kerja dengan teknik ini
    sangat sering digunakan untuk merekrut karyawan
    pada level managerial atau oleh perusahaan
    yang dalam operasionalnya sangat mengutamakan
    masalah-masalah kepribadian. Wawancara kerja
    behavioral dimaksudkan untuk mengetahui respon
    pelamar terhadap suatu kondisi atau situasi
    tertentu sehingga pewawancara dapat melihat
    bagaimana pelamar memandang suatu tantangan/permasalahan
    dan menemukan solusinya. Pertanyaan-pertanyaan
    yang biasanya diajukan antara lain: “coba
    anda ceritakan pengalaman anda ketika gagal
    mencapai target yang ditetapkan”, dan “berikan
    beberapa contoh tentang hal-hal apa yang anda
    lakukan ketika anda dipercaya menangani beberapa
    proyek sekaligus”. Untuk menjawab
    pertanyaan-pertanyaan tersebut si pelamar perlu
    mempersiapkan diri untuk mengingat kembali situasi,
    tindakan dan hasil yang terjadi pada saat yang
    lalu. Selain itu, sangat penting bagi pelamar
    untuk memancing pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut
    dari pewawancara agar dapat menjelaskan secara
    rinci gambaran situasi yang dihadapinya. Untuk itu
    diperlukan ketrampilan berkomunikasi yang baik
    dari si pelamar. Keberhasilan atau kegagalan dalam
    wawancara ini sangat tergantung pada
    kemampuan
    pelamar dalam menggambarkan situasi yang
    berhubungan dengan pertanyaan pewawancara secara
    rinci dan terfokus.
    Dalam wawancara kerja behavioral, si pelamar harus
    dapat menyusun jawaban yang mencakup 4 (empat) hal: (1) menggambarkan situasi yang terjadi saat itu, (2)
    menjelaskan tindakan-tindakan yang diambil untuk
    merespon situasi yang terjadi, (3) menceritakan
    hasil yang dicapai, dan (4) apa hikmah yang
    dipetik dari kejadian tersebut (apa yang
    dipelajari). Dalam wawancara behavioral ini teknik
    yang paling sering dipergunakan adalah yang
    disebut S-T-A-R atau S-A-R atau P-A-R.


Situation

or

Problem

or


Task

Pelamar
diminta untuk menggambarkan situasi yang terjadi
atau tugas-tugas yang harus dilaksanakannya pada
masa lalu. Pelamar harus menggambarkan situasi
atau tugas tersebut secara spesifik, rinci dan
mudah dipahami oleh pewawancara. Situasi atau
tugas yang digambarkan dapat berasal dari
pekerjaan sebelumnya, pengalaman semasa sekolah,
pengalaman tertentu, atau berbagai kejadian yang
relevan dengan pertanyaan si pewawancara


Action

Pelamar
diminta untuk menggambarkan tindakan-tindakan
yang diambil dalam menghadapi situasi / masalah
/ tugas di atas. Dalam hal ini pelamar harus
bisa memfokuskan pada permasalahan. Meskipun
mungkin permasalahan yang ada ditangani oleh
beberapa orang atau team, pelamar harus
memberikan penjelasan tentang apa saja
peranannya dalam team tersebut – jangan
mengatakan apa yang telah dilakukan oleh team
tetapi apa yang telah dilakukan pelamar sebagai
bagian dari team.

Results

Pelamar
diminta menjelaskan hasil-hasil apa saja yang
dicapai. Apa saja hambatan yang terjadi jika
hasil tidak tercapai. Apa yang terjadi kemudian
setelah permasalahan tersebut selesai dikerjakan.
Lalu apa pelajaran yang dapat dipetik oleh
pelamar dari kejadian tersebut.


Jenis Wawancara Kerja

Dalam
dunia kerja, dikenal beberapa tipe wawancara kerja
sebagai berikut:

  • Wawancara
    Seleksi (Screening Interview)
    .

    Jika pelamar atau kandidat untuk menduduki jabatan
    berjumlah lebih dari satu orang maka dilakukan
    wawancara kerja untuk menyeleksi siapa diantara
    kandidat tersebut merupakan kandidat yang paling qualified
    sehingga bisa dilanjutkan ke tahap seleksi
    berikutnya. Wawancara seleksi biasanya berlangsung
    singkat antara 15 – 30 menit.

  • Wawancara
    Telepon (Telephone Interview)
    .
    Demi menghemat biaya dan efisiensi waktu, banyak recruiter

    yang melakukan wawancara kerja melalui telepon.
    Oleh sebab itu, pelamar harus siap dihubungi
    sewaktu-waktu, sebab seringkali recruiter
    tidak memberikan pilihan bagi pelamar untuk
    menentukan waktu kapan ia siap diwawancarai
    melalui telepon.

  • Wawancara
    di Kampus / Sekolah (On-Campus Interview)

    . Meskipun tidak banyak perusahaan yang melakukan
    wawancara kerja di kampus, namun untuk
    perusahaan-perusahaan tertentu yang mencari para
    lulusan untuk dilatih lebih lanjut, cara ini
    dinilai sangat efektif karena memberikan akses
    bagi perusahaan tersebut untuk mendapatkan
    kandidat terbaik yang mungkin sangat sulit
    diperoleh jika menunggu para kandidat tersebut
    datang melamar.

  • Wawancara
    di Pameran Kerja
    (Job Fair Interview)
    . Pameran
    kerja diadakan untuk menjembatani perusahaan
    dengan para pencari kerja. Pada pameran kerja
    biasanya, perusahaan memberikan berbagai informasi
    mengenai perusahaannya, menerima surat lamaran dan
    CV dari pengunjung (pencari kerja), bahkan tidak
    jarang para recruiter langsung melakukan wawancara
    di stand (booth) mereka. Di Indonesia
    memang pameran seperti ini masih sangat jarang
    dilaksanakan jika dibandingkan dengan pameran
    otomotif, rumah maupun furniture.

  • Wawancara
    di Lokasi Kerja (On-Site Interview).

    Ketika seorang kandidat telah lolos dalam tahap
    wawancara seleksi, seringkali perusahaan
    mengundang kandidat tersebut untuk melihat secara
    langsung lokasi kerja. Pada kesempatan tersebut recruiter
    biasanya langsung melakukan wawancara secara
    mendalam. Bagi pelamar yang belum memiliki
    pengalaman kerja pada lokasi yang lingkungannya
    kurang lebih sama, wawancara kerja di lokasi
    mungkin bisa terasa menakutkan karena mungkin
    harus melakukan perjalanan dan berada di wilayah
    yang tidak ia kenal.

  • Wawancara
    Kelompok (Panel or Group Interview).

    Wawancara kelompok adalah suatu jenis wawancara
    kerja dimana para pewawancara (recruiter)
    terdiri dari 2 (dua) orang atau lebih. Biasanya
    wawancara jenis ini dilakukan jika perusahaan
    memandang bahwa pelamar sudah hampir memenuhi
    syarat untuk diterima bekerja. Biasanya para
    penanya dalam wawancara inilah yang memiliki
    wewenang untuk memutuskan apakah pelamar akan
    diterima bekerja atau tidak.

  • Wawancara
    Kasus (Case Interview).
    Wawancara kerja
    jenis ini menekankan pada kemampuan analisis dan
    pemecahan masalah terhadap suatu kasus tertentu.
    Biasanya dalam wawancara kasus, pelamar diminta
    untuk berperan sebagai pemegang jabatan yang
    ditawarkan, lalu diberikan sebuah kasus untuk
    dicarikan solusinya.

Pertanyaan-Pertanyaan Umum

Pada
umumnya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam
wawancara kerja sangat tergantung pada teknik apa yang
digunakan oleh si pewawancara. Jika menggunakan teknik
wawancara kerja tradisional maka pertanyaan-pertanyaan
yang seringkali diajukan adalah sebagai berikut:

  • Jelaskan pada saya bagaimana anda
    menggambarkan diri anda?

  • Apa kelebihan dan kekurangan anda?

  • Apa saja prestasi yang pernah anda raih
    pada pekerjaan yang terdahulu / ketika sekolah?

  • Mengapa anda berhenti dari perusahaan yang
    lalu?

  • Apa tugas-tugas anda pada pekerjaan yang
    lalu?

  • Darimana anda mengetahui perusahaan ini?

  • Mengapa anda tertarik untuk bekerja di
    perusahaan ini?

  • Jika anda diterima bekerja untuk jabatan
    ini, apa yang akan anda lakukan?

  • Apa itu professionalisme menurut anda?

  • Apa itu teamwork menurut anda?

  • Apa hoby anda?

Dalam wawancara yang menggunakan teknik wawancara
kerja behavioral, maka pertanyaan-pertanyaan di atas
seringkali ditambahkan dengan pertanyaan-pertanyaan
sebagai berikut:

  • Ceritakan pada saya/kami kapan anda mengalami suatu situasi yang
    sangat tidak menyenangkan dan bagaimana anda
    berhasil keluar dari situasi tersebut.

  • Ceritakan pada saya/kami bagaimana anda meyakinkan klien anda ketika
    anda melakukan presentasi.

  • Coba anda ceritakan bagaimana anda mengatasi situasi dimana anda
    harus melakukan banyak tugas dan anda harus
    membuat prioritas tugas mana yang harus
    didahulukan.

  • Bisakah anda ceritakan keputusan apa yang paling sulit anda buat
    dalam setahun terakhir ini? Mengapa demikian?

  • Ceritakan mengapa team anda gagal mencapai target pada tahun sebelumnya
    dan bagaimana anda memotivasi team tersebut
    sehingga dapat meraih sukses di tahun berikutnya.

  • Bagaimana cara anda menyelesaikan konflik? Bisa beri contoh?

  • Bisakah anda ceritakan suatu kejadian dimana anda mencoba untuk
    menyelesaikan suatu tugas dan ternyata gagal?

  • Ceritakan apa yang anda lakukan ketika dipaksa membuat suatu aturan
    yang tidak menyenangkan bagi karyawan tetapi
    menguntungkan bagi perusahaan.

Sebagai
suatu proses yang melibatkan interaksi antara kedua
belah pihak, dalam wawancara kerja si pelamar juga
biasanya diberikan kesempatan untuk mengajukan
pertanyaan. Oleh karena itu akan sangat baik jika
pelamar mempersiapkan beberapa pertanyaan, misalnya:

  • Apa yang diharapkan dari saya jika saya
    diterima untuk jabatan ini?

  • Menurut pengalaman di sini, apa yang
    merupakan tantangan terbesar bagi pemegang jabatan
    ini?

  • Apakah ada pelatihan (internal maupun
    eksternal) yang dapat membantu saya untuk lebih
    berperan jika saya diterima bekerja di perusahaan
    ini?

  • Adakah ada hal-hal khusus di luar uraian
    jabatan yang harus saya selesaikan dalam waktu
    tertentu?


Menangani
Pertanyaan Bersifat Pribadi

Berbeda dengan kondisi di negara-negara maju dimana hak individu sangat dijunjung tinggi dan telah
memiliki perangkat hukum sangat memadai tentang
hal-hal yang mengatur hak-hak pribadi seseorang
sehingga para recruiter (pewawancara) sangat
berhati-hati dalam mengajukan pertanyaan, di Indonesia
justru sebaliknya. Dalam wawancara kerja di
perusahaan-perusahaan di Indonesia seringkali
pewawancara justru banyak menggali masalah-masalah
yang bersifat pribadi. Contoh: Menanyakan
latarbelakang pelamar (orangtua, saudara, istri, anak,
status, agama, suku bangsa, umur) adalah merupakan hal
yang dianggap biasa.

Meskipun
seringkali pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak
memiliki relevansi dengan jabatan yang
dilamar, pelamar harus menyiapkan diri untuk
merespon pertanyaan-pertanyaan tersebut secara tepat
dengan cara-cara yang elegan. Para penanya mungkin
saja tidak bermaksud untuk menyudutkan pelamar, tetapi
lebih didasarkan pada kepedulian mereka terhadap
kecocokan antara pelamar (calon karyawan) dengan
budaya yang ada dalam perusahaan. Oleh karena itu jika
pelamar ditanyakan mengenai hal-hal yang dirasa tidak
berhubungan dengan pekerjaan yang ditawarkan, pelamar
harus mampu mengidentifikasi apa makna dibalik
pertanyaan tersebut. Untuk merespon
pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi, pelamar
dapat melakukan beberapa alternatif:

  • Pelamar bisa mengklarifikasi
    kepada penanya apa relevansi pertanyaan yang
    diajukan dengan jabatan yang dilamar sehingga
    penanya dapat menjelaskan lebih jauh hubungannya
    dengan pekerjaan, lalu berikan jawaban yang tepat.

  • Pelamar dapat menjawab
    langsung secara diplomatis dengan kesadaran penuh
    bahwa pertanyaan tersebut memang tidak memiliki
    hubungan langsung dengan pekerjaan / jabatan yang
    dilamar.

  • Pelamar bisa juga menolak
    untuk menjawab pertanyaan tersebut jika dirasa
    sangat mengganggu privacy pelamar. Jika hal
    ini terpaksa dilakukan, maka harus dilakukan
    dengan cara-cara halus dan diplomatis sehingga recruiter
    tidak merasa dilecehkan karena dianggap telah
    memberikan pertanyaan yang keliru.

Faktor-Faktor
Negatif


Beberapa faktor, baik fisik maupun psikologis,
yang harus diwaspadai oleh pelamar adalah
faktor-faktor negatif yang menjadi perhatian
pewawancara. Faktor-faktor tersebut misalnya:

  • Penampilan diri yang terlihat tidak
    professional (dandanan menor, pakaian yang tidak
    enak dilihat, tidak rapi, dan tidak sesuai suasana)

  • Bersikap angkuh, defensive atau agresif

  • Ogah-ogahan (tidak terlihat antusias atau
    tertarik dengan materi pembicaraan yang diajukan
    pewawancara)

  • Gugup

  • Sangat menekankan pada kompensasi yang
    akan diterima

  • Selalu berusaha mencari-cari alasan atas
    setiap kegagalan yang pernah dialami di masa lalu

  • Tidak bisa berdiplomasi dan
    kurang bisa bersopan santun

  • Menyalahkan
    perusahaan lama atau bekas atasan dimasa lalu,
    atau mengeluhkan perubahan teknologi yang cepat

  • Tidak
    bisa fokus dalam menjawab pertanyaan atau
    pembicaraan pewawancara

  • Gagal
    memberikan pertanyaan kepada pewawancara

  • Berulang
    kali bertanya: “apa yang dapat diberikan
    perusahaan kepada saya kalau saya melakukan ……?”

  • Kurang persiapan: gagal memperoleh
    informasi penting seputar perusahaan, gagal
    menjawab pertanyaan-pertanyaan pewawancara dan
    tidak bisa mengajukan pertanyaan bermutu kepada
    pewawancara.

Beberapa Saran

Bagi
anda pencari kerja yang dipanggil untuk
menjalani wawancara kerja, mungkin ada baiknya anda
memperhatikan beberapa saran dibawah ini.

Lakukan hal-hal berikut:

  • Pastikan
    anda sudah tahu tempat wawancara

  • Jika
    tidak diberitahu terlebih dahulu jenis pakaian apa
    yang harus dipakai, maka gunakan pakaian yang
    bersifat formal,bersih dan rapi

  • Mempersiapkan
    diri menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin
    akan diajukan pewawancara

  • Usahakan
    untuk tiba 10 (sepuluh) menit lebih awal, jika
    terpaksa terlambat karena ada gangguan di
    perjalanan segera beritahu perusahaan (pewawancara)

  • Sapa
    satpam atau resepsionis yang anda temui dengan
    ramah

  • Jika
    harus mengisi formulir, isilah dengan lengkap dan
    rapi.

  • Ucapkan
    salam (selamat pagi / siang / sore) kepada para
    pewawancara dan jika harus berjabat tangan,
    jabatlah dengan erat (tidak terlalu keras namun
    tidak lemas)

  • Tetaplah
    berdiri sampai anda dipersilakan untuk duduk.
    Duduk dengan posisi yang tegak dan seimbang

  • Persiapkan
    surat lamaran dan CV anda

  • Ingat
    dengan baik nama pewawancara

  • Lakukan
    kontak mata dengan pewawancara

  • Tetap
    fokus pada pertanyaan yang diajukan pewawancara

  • Tunjukkan
    antusiasme dan ketertarikan anda pada jabatan yang
    dilamar dan pada perusahaan

  • Gunakan
    bahasa formal, bukan prokem atau bahasa gaul;
    kecuali anda diwawancarai untuk mampu menggunakan
    bahasa tersebut

  • Tampilkan
    hal-hal positif yang pernah anda raih

  • Tunjukkan
    energi dan rasa percaya diri yang tinggi

  • Tunjukkan
    apa yang bisa anda perbuat untuk perusahaan bukan
    apa yang bisa diberikan oleh perusahaan kepada
    anda

  • Jelaskan
    serinci mungkin hal-hal yang ditanyakan oleh
    pewawancara

  • Ajukan
    beberapa pertanyaan bermutu diseputar pekerjaan
    anda dan bisnis perusahaan
    secara umum

  • Berbicara
    dengan cukup keras sehingga suara jelas terdengar
    oleh pewawancara

  • Akhiri
    wawancara dengan menanyakan apa yang harus anda
    lakukan selanjutnya

  • Ucapkan
    banyak terima kasih kepada pewawancara atas waktu
    dan kesempatan yang diberikan kepada anda.

Hindari hal-hal berikut:

  • Berasumsi
    bahwa anda tahu tempat wawancara, padahal anda
    tidak yakin

  • Tidak
    melatih diri untuk menjawab pertanyaan yang
    kira-kira akan diajukan pewawancara


  • Berpakaian
    seadanya atau berpakaian dan berdandan sangat
    mencolok

  • Datang
    terlambat


  • Tidak
    membawa surat lamaran dan CV

  • Menganggap
    remeh satpam, resepsionis bahkan pewawancara


  • Menjabat
    tangan pewawancara dengan lemas dan gemetar

  • Merokok,
    mengunyah permen atau meludah selama wawancara

  • Duduk
    selonjor atau bersandar

  • Berbicara
    terlalu keras atau terlalu lembut

  • Membuat
    lelucon

  • Menjawab
    sekedarnya saja, seperti “ya” atau “tidak”
    atau “tidak tahu” atau “entahlah”.

  • Terlalu
    lama berpikir setiap kali menjawab

  • Mengalihkan
    topik pembicaraan ke hal-hal yang tidak ada
    hubungan dengan pekerjaan

  • Menyalahkan
    mantan atasan, mantan rekan kerja atau perusahaan
    yang lama

  • Memberikan
    jawaban palsu, berbohong atau memanipulasi data

  • Menanyakan
    gaji dan fasilitas yang diterima pada saat
    wawancara seleksi dimana anda belum tahu
    kemungkinan anda akan diterima atau tidak

  • Memperlihatkan
    rasa putus asa anda dengan menunjukkan bahwa anda
    mau bekerja untuk bidang apa saja dan mau
    melakukan apa saja asal bisa diterima bekerja di
    perusahaan tersebut

  • Membahas
    hal-hal negatif dari anda yang akan merugikan diri
    anda sendiri

  • Mengemukakan
    hal-hal yang dianggap masih kontroversial

  • Menelpon
    atau menerima telepon, atau membaca buku selama
    wawancara

  • Salah
    menyebut nama pewawancara

  • Tidak
    mengajukan pertanyaan pada saat diberikan
    kesempatan untuk bertanya

  • Lupa
    mengucapkan terima kasih kepada para pewawancara

Mengingat
bahwa masih banyak calon karyawan yang menghadapi
kendala dalam menjalani wawancara kerja, artikel ini
diharapkan dapat memberikan sedikit pencerahan bagi
mereka sehingga lebih siap dan percaya diri. Saya
yakin masih banyak cara-cara yang mungkin belum
tertulis dalam artikel ini, namun setidaknya jika anda
melaksanakan saran-saran yang ada di atas maka anda
akan memiliki bekal yang cukup dalam menghadapi
wawancara kerja. Selamat mencoba dan semoga anda
sukses diterima bekerja dan menemukan pekerjaan sesuai
dengan yang anda inginkan.

Semoga bermanfaat🙂