Sarjana seharusnya tak begini

Lagi-lagi sarjana, emang nggak penting untuk dibahas tapi menarik untuk diketahui. Betapa banyak dari para lulusan sarjana yang setelah lulus tidak tau kemana arah. Apakah langsung masuk kerja atau menikah dulu baru bekjerja so, itu hanya sekedar pilihan. Tapi yang ditekankan disini bahwa sarjana didik untuk ditempatkan/mencari pekerjaan bukan diciptakan untuk membuat/mengcreate mencipatakan lapangan pekerjaan sebagaimana mestinya. Hal ini guna mendorong/ mengurangi tingkat penggangguran yang semakin banyak.
Kembali ke system pendidikan kita, masih adakah upaya untuk merubah kurikulum yang sudah statis dan ketinggalan jaman itu! Kita seharusnya becermin pada system pendidikan di Negara maju yang mau mengikuti perkembangan jaman. Tak ayal anak SD di India saja sudah bisa membuat basis data dan algoritma pemrograman. Di Indonesia SD saja masih harus harus belajar menglafal huruf dan angka uh begitu jauh ketinggalannya.
Dimana letak kesalahan kita sebenarnya. Pertanyaan yang sebetulnya gampang di cari solusinya akan tetapi lagi-lagi birokrasi yang bermain dalam hal ini. Kembali ke sarajana , mengingat emang kembali kepada factor untuk mengikuti kuliah itu sendiri barangkali ada yang sekedar mencari gelar doank atau hanya sekedar tuntutan orang tua atau hanya sekedar gengsi-gengsian masuk universitas yang terkemuka dan termahal. Apapun itu, berapa lama budaya ini akan tetap dipertahankan.
Seorang sarjana harusnya di charge supaya memiliki jiwa entrepreneur. Sehingga apabila ia telah selesai studinya ia tidak akan kecewa jika tidak mendapat pekerjaan, malah ia akam membuka usaha untuk membuka lapangan pekerjaan. Memang seorang lulusan sarjana itu punya gengsi yang cukup tinggi takut nyali membuka usaha sendiri, tak bernyali karena title yang sudah menempel di belakang namanya. Padahal yang menentukan sukses atau tidaknya seseorang bukan dari title nya malah dari sOft skill  dan hard skill yang ia dapatkan sewaktu masih di bangku kuliah.