Hukum alam ala preman

warna-warni kehidupan tak luput dari pandangan mataku. Serasa indah dilihat walau semuanya terlihat hampa. Kesibukan pagi hening terusik, rasa pegal yang masih setia menemani tak bosan-bosannya menemaniku tiap hari. Kepalaku terasa penuh dengan banyak harapan dan cita-cita yang terjaga didalamnya.

Namun, lamunan itu seakan hadir kembali mengusik pikiranku tiap pagi. Dilema nan harmoni mengatur jarak antara aku dan cita-citaku. Semua sudah tersusun rapi seperti baju yang disimpan di lemari. Keinginan yang sangat besar tak cukup hanya dengan ‘Ucapan Maniz’ dan tak ada áction apapun.

Ini adalah hukum alam. Mirip seperti kisah seorang ustadz dan preman. Seorang ustadz notabenenya adalah orang yang dekat dengan Allah dan sang preman yang secara alamiah orang yang boleh dikatakan banyak dosanya. Alkisah di suatu katakanlah Majelís Tálim ada sang murid bertanya kepada sang ustadz, pak bisa tidak kalo kita ingin menyalakan lampu tanpa harus memijat saklarnya?

Ustadz pun mencoba melakukannya dengan cara berdoa sekuat tenaga bagaimana caranya supaya lampu itu bisa menyala berkat doanya ini. akhirnya preman dan murid murid yang ikut pengajian berdoa bersama guna lampunya bisa menyala tanpa memijat saklarnya sedikitpun.

Akhirnya sang preman sendiri yang bisa menyalakan lampu!, ia berkata ‘Mana mungkin bisa kalo lampu itu menyala kalo kita tidak memijit saklarnya?’. Dan semua yang berdoa menjadi bengong. Dan kisah inilah yang membuat sebuah perumpamaan bahwa kalau memang sudah hukum alam, kita tidak boleh menentangnya? iya boleh saja Anda berdoa untuk bisa menyalakan lampu tanpa memijat saklarnya tapi, ini sangat mustahil dilakukan.